05 April 2012

Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam dan Pengemis Yahudi Buta

Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta hari demi hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata, "Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya".

Setiap pagi Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam melakukannya hingga menjelang Beliau Sallallahu ‘alaihi wasallam wafat. Setelah kewafatan Rasulullah tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.

Suatu hari Abu bakar Radiallahu anhu berkunjung ke rumah anaknya Aisyah Radiallahu anha Beliau bertanya kepada anaknya, "Anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan". 
Aisyah Radiallahu anha menjawab pertanyaan ayahnya, "Wahai ayah engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja". 
"Apakah Itu?", tanya Abu bakar Radiallahu anhu. 
"Setiap pagi Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana", kata Aisyah Radiallahu anha.

Ke esokan harinya Abu bakar Radiallahu anhu. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abu bakar Radiallahu anhu mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepada nya.

Ketika Abubakar Radiallahu anhu mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, "Siapakah kamu ?". 
Abubakar Radiallahu anhu menjawab, "Aku orang yang biasa". 
"Bukan!!! engkau bukan orang yang biasa mendatangiku", jawab si pengemis buta itu. "Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia berikan pada ku dengan mulutnya sendiri", pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Abubakar Radiallahu anhu tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, "Aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam". 

Setelah pengemis itu mendengar cerita Abu bakar Radiallahu anhu ia pun menangis dan kemudian berkata, "Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia...." Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abu bakar Radiallahu anhu.
>>Selengkapnya

Ridla Allah tergantung kepada ke-Ridla-an Orang Tua

Saya pernah bercerita pada teman-teman sekalian tentang "Kisah seorang Anak dan Pohon Apel". Tahukah apa (siapa) yang dimaksud dengan pohon apel dari cerita tersebut?

Pohon apel yang dimaksudkan di dalam cerita itu adalah kedua orang tua (Ibu dan Bapak). Bila kita masih kecil, kita suka bermain dengan mereka. Ketika kita meningkat remaja, kita memerlukan bantuan mereka untuk meneruskan hidup. Kita tinggalkan mereka, dan hanya kembali meminta pertolongan apabila kita dalam kesusahan. Namun begitu, mereka tetap menolong kita dan melakukan apa saja asalkan kita bahagia dan gembira dalam hidup. Anda mungkin terfikir bahwa anak lelaki itu bersikap kejam terhadap pohon apel itu, tetapi renungkanlah, itu hakikatnya bagaimana kebanyakan anak-anak zaman sekarang melayani orang tua mereka. Hal tersebut telah diingatkan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala dalam Al Qur'an surah Al-Baqarah ayat 83 sebagai bahan perenungan (Tafakur) bagi kita;
surah Al-Baqarah ayat 83
Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling. (Terjemahan surah Al-Baqarah ayat 83)

Hargailah jasa orang tua kepada kita. Janganlah kita hanya menghargai mereka semasa menyambut hari ibu dan hari ulang tahun orang tua kita setahun sekali.

Allah Subhanahu wa ta'ala telah memperingatkan kita untuk wajib berbakti pada orang tua kita, tertulis dalam Al Qur'an surah Al-'Ankabut ayat 8;

surah Al-'Ankabut ayat 8
Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Terjemahan surah Al-'Ankabut ayat 8)

dan juga tertulis pada surah Luqman ayat 14;
surah Luqman ayat 14
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (Terjemahan surah Luqman ayat 14)
dan juga surah Al-'Ahqaf ayat 15;
surah Al-'Ahqaf ayat 15
Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri". (Terjemahan surah Al-'Ahqaf ayat 15)
Kewajiban untuk berbakti kepada orang tua juga telah dijelaskan oleh Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam dalam beberapa sabda beliau dalam hadist-hadist;
“Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk kupergauli dengan baik?” Beliau berkata, “Ibumu.” Laki-laki itu  kembali bertanya, “Kemudian siapa?” “Ibumu”, jawab beliau. “Kemudian siapa?”, tanya laki-laki itu. “Ibumu”, jawab beliau. “Kemudian siapa?” tanyanya lagi. “Kemudian ayahmu”, jawab beliau.” (HR. Al-Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 6447)
Bahwa berbakti kepada kedua orang tua ialah amal yang paling utama. Dengan dasar diantara yaitu hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim, dari sahabat Abu Abdirrahman Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. “Arti: Dari Abdullah bin Mas’ud katanya, “Aku bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang amal-amal yang paling utama dan dicintai Allah? Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, Pertama shalat pada waktu (dalam riwayat lain disebutkan shalat di awal waktunya), kedua berbakti kepada kedua orang tua, ketiga jihad di jalan Allah” [HR Bukhari, Muslim ]
Bahwa ridla Allah tergantung kepada keridlaan orang tua. Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad, Ibnu HIbban, Hakim dan Imam Tirmidzi dari sahabat Abdillah bin Amr dikatakan. “Arti : Dari Abdillah bin Amr bin Ash Radhiyallahu ‘anhuma dikatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ridla Allah tergantung kepada keridlaan orang tua dan murka Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua” [Hadist Riwayat Bukhari dalam Adabul Mufrad (2), Ibnu Hibban (2026-Mawarid-), Tirmidzi (1900), Hakim (4/151-152)]
Allah Subhanahu wa ta'ala melarang untuk berlaku kasar pada kedua orang tua kita, baik melalui sikap maupun ucapan. Telah tertulis dalam Al Qur'an;
surah Al-'Isra' ayat 23
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (Terjemahan surah Al-'Isra' ayat 23)

surah Al-'Ahqaf ayat 17
Dan orang yang berkata kepada dua orang ibu bapaknya: "Cis bagi kamu keduanya, apakah kamu keduanya memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan, padahal sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumku? lalu kedua ibu bapaknya itu memohon pertolongan kepada Allah seraya mengatakan: "Celaka kamu, berimanlah! Sesungguhnya janji Allah adalah benar". Lalu dia berkata: "Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu belaka". (Terjemahan surah Al-'Ahqaf ayat 17)
Apakah yang akan terjadi jika kita tidak patuh pada perintah Allah Subhanahu wa ta'ala agar berbakti pada orang tua? 
Tertulis dalam Al Qur'an surah An-Nisa' ayat 36, bahwa Allah Subhanahu wa ta'ala tidak menyukai orang-orang yang durhaka pada orang tuanya;
surah An-Nisa' ayat 36
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, (Terjemahan surah An-Nisa' ayat 36)
dan juga;
surah Al-'Ahqaf ayat 18
Mereka itulah orang-orang yang telah pasti ketetapan (azab) atas mereka bersama umat-umat yang telah berlalu sebelum mereka dari jin dan manusia. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi. (Terjemahan surah Al-'Ahqaf ayat 18)
Bagaimana sebaiknya kita bersikap kepada orang tua kita? 
Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman dalam Al Qur'an;
surah Al-Baqarah ayat 215
Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: "Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan". Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.(Terjemahan surah Al-Baqarah ayat 215)
surah Al-'Isra' ayat 24
Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". (Terjemahan surah Al-'Isra' ayat 24)

Cara berbakti pada orang tua juga dijelaskan dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang telah ditulis pada [HR.Bukhari, Muslim];
Bahwa berbakti kepada kedua orang tua dapat menghilangkan kesulitan yang sedang dialami yaitu dengan cara bertawasul dengan amal shahih tersebut. Dengan dasar hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Ibnu Umar. “Arti : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pada suatu hari tiga orang berjalan, lalu kehujanan. Mereka berteduh pada sebuah gua di kaki sebuah gunung. Ketika mereka ada di dalamnya, tiba-tiba sebuah batu besar runtuh dan menutupi pintu gua. Sebagian mereka berkata pada yang lain, ‘Ingatlah amal terbaik yang pernah kamu lakukan’. Kemudian mereka memohon kepada Allah dan bertawassul melalui amal tersebut, dgn harapan agar Allah menghilangkan kesulitan tersebut. Salah satu diantara mereka berkata, “Ya Allah, sesungguh aku mempunyai kedua orang tua yang sudah lanjut usia sedangkan aku mempunyai istri dan anak-anak yang masih kecil. Aku mengembala kambing, ketika pulang ke rumah aku selalu memerah susu dan memberikan kepada kedua orang tuaku sebelum orang lain. Suatu hari aku harus berjalan jauh untuk mencari kayu bakar dan mencari nafkah sehingga pulang telah larut malam dan aku dapati kedua orang tuaku sudah tertidur, lalu aku tetap memerah susu sebagaimana sebelumnya. Susu tersebut tetap aku pegang lalu aku mendatangi kedua namun kedua masih tertidur pulas. Anak-anakku merengek-rengek menangis untuk meminta susu ini dan aku tidak memberikannya. Aku tidak akan memberikan kepada siapa pun sebelum susu yang aku perah ini kuberikan kepada kedua orang tuaku. Kemudian aku tunggu sampai kedua bangun. Pagi hari ketika orang tuaku bangun, aku berikan susu ini kepada keduanya. Setelah kedua minum lalu kuberikan kepada anak-anaku. Ya Allah, seandai peruntukan ini ialah peruntukan yang baik karena Engkau ya Allah, bukakanlah. “Maka batu yang menutupi pintu gua itupun bergeser” [HR.Bukhari, Muslim]
Apa yang akan kita dapatkan dari berbakti pada orang tua tertulis pada surah Al-'Ahqaf ayat 16;
Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka. (Terjemahan surah Al-'Ahqaf ayat 16)
Manfaat dari berbakti kepada kedua orang tua yaitu akan dimasukkan ke jannah (surga) oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di dalam hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam disebutkan bahwa anak yang durhaka tidak akan masuk surga. Maka kebalikan dari hadist tersebut yaitu anak yang beruntuk baik kepada kedua orang tua akan dimasukkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala ke jannah (surga). Dosa-dosa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala segerakan adzab di dunia diantara ialah beruntuk zhalim dan durhaka kepada kedua orang tua. Dengan demikian jika seorang anak beruntuk baik kepada kedua orang tuanya, Allah Subahanahu wa Ta’ala akan menghindarkan dari berbagai malapetaka, dgn izin Allah. [Disalin dari Kitab Birrul Walidain]
Demikianlah sedikit masukan dari saya untuk mengingatkan diri saya pribadi maupun teman-teman sekalian, bagaimana kita harus berbakti pada kedua orang tua kita sebagai perintah dari Allah Subhanahu wa ta'ala untuk bekal kita di dunia dan akherat, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ridla Allah tergantung kepada keridlaan orang tua dan murka Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua”.


>>Selengkapnya

04 April 2012

Abu Nawas Melarang Rukuk dan Sujud dalam Sholat

Khalifah Harun Al-Rasyid marah besar pada perkataan sahibnya yang karib dan setia, yaitu Abu Nawas. Ia ingin menghukum mati Abu Nawas setelah menerima laporan bahwa Abu Nawas mengeluarkan fatwa tidak mau rukuk dan sujud dalam shalat. Lebih lagi Harun Al-Rasyid mendengar Abu Nawas mengatakan bahwa dirinya khalifah yang suka fitnah! Menurut pembantu-pembantunya, Abu Nawas layak di pancung karena melanggar syaria't Islam dan menyebar fitnah.

Khalifah mulai terpancing. Tapi untung ada seorang pembantunya yang memberi saran, hendaknya khalifah melakukan Tabayun (konfirmasi). Abu Nawas pun di geret menghadap Khalifah, kini ia menjadi pesakitan. 
"Hai Abu Nawas, benar kamu tidak rukuk dan sujud dalam shalat?" tanya khalifah ketus. 
Abu Nawas menjawab dengan tenang, "Benar Saudaraku." 
Khalifah kembali bertanya dengan nada suara yang lebih tinggi, "Benar kamu berkata kepada masyarakat, bahwa aku, Harun Al-Rasyid adalah seorang Khalifah yang suka memfitnah?" 
Abu Nawas menjawab, "Benar saudaraku." 
Khalifah berteriak dengan suara menggelegar, "Kamu memang pantas dihukum mati, karena melanggar syaria't islam dan menebarkan fitnah tentang Khalifah!"
Abu Nawas tersenyum seraya berkata, "Saudaraku, memang aku tidak menolak bahwa aku telah mengeluarkan dua pendapat tadi, tapi sepertinya kabar yang sampai padamu tidak lengkap. Kata-katanya dipelintir, dijagal, seolah-olah aku berkata salah".
Khalifah berkata dengan ketus, "Apa maksudmu?' Jangan membela diri, kau telah mengaku dan mengatakan kabar itu benar adanya."
Abu Nawas beranjak dari duduknya dan menjelaskan dengan tenang. "Saudaraku aku memeng berkata rukuk dan sujud tidak perlu dalam sholat? Waktu itu aku menjelaskan tata cara sholat jenazah yang memang tidak perlu rukuk dan sujud."
"Bagaimana yang soal aku yang suka Fitnah?" tanya Khalifah.
Abu Nawas menjawab dengan senyum , " Kalau itu aku sedang menjelaskan tafsir ayat 28 surat Al-'Anfal, yang berbunyi " Ketahuilah bahwa kekayaan dan anak-anakmu hanyalah ujian bagimu. sebagai seorang Khalifah dan seorang ayah, anda sangat menyukai kekayaan dan anak-anak , berarti anda suka 'Fitnah' (ujian) itu."
surah An-'Anfal ayat 28
Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. (Terjemahan surah An-'Anfal ayat 28)
Mendengar penjelasan itu Abu Nawas yang sekaligus kritikan, Khalifah Harun Al-Rasyid tertunduk malu, menyesal dan sadar. Rupanya kedekatan Abu Nawas dan Harun Al-Rasyid menyulut iri dan dengki diantara pembantu-pembantunya. Abu Nawas memanggil Khalifah dengan "ya akhi"(saudaraku). hubungan antara mereka bukan hanya sekedar tuan dan hamba. pembantu-pembantu khalifah yang hasud ingin memisahkan hubungan akrab tersebut dengan memutarbalikan berita.
>>Selengkapnya

31 Maret 2012

Cerita Nidzam al-Mahmudi dan anaknya

Tersebutlah seorang penganut tasawuf bernama Nidzam al-Mahmudi. Ia tinggal di sebuah kampung terpencil, dalam sebuah gubuk kecil. Istri dan anak-anaknya hidup dengan amat sederhana. Akan tetapi, semua anaknya berpikiran cerdas dan berpendidikan. Selain penduduk kampung itu, tidak ada yang tahu bahwa ia mempunyai kebun subur berhektar-hektar dan perniagaan yang kian berkembang di beberapa kota besar. Dengan kekayaan yang diputar secara mahir itu ia dapat menghidupi ratusan keluarga yg bergantung padanya. Tingkat kemakmuran para kuli dan pegawainya bahkan jauh lebih tinggi ketimbang sang majikan. Namun, Nidzam al-Mahmudi merasa amat bahagia dan damai menikmati perjalanan usianya. Salah seorang anaknya pernah bertanya, "Mengapa Ayah tidak membangun rumah yang besar dan indah? Bukankah Ayah mampu?"

"Ada beberapa sebab mengapa Ayah lebih suka menempati sebuah gubuk kecil," jawab sang sufi yang tidak terkenal itu. "Pertama, karena betapa pun besarnya rumah kita, yang kita butuhkan ternyata hanya tempat untuk duduk dan berbaring. Rumah besar sering menjadi penjara bagi penghuninya. Sehari-harian ia hanya mengurung diri sambil menikmati keindahan istananya. Ia terlepas dari masyarakatnya. Dan, ia terlepas dari alam bebas yang indah ini. Akibatnya ia akan kurang bersyukur kepada Allah."
Anaknya yang sudah cukup dewasa itu membenarkan ucapan ayahnya dalam hati. Apalagi ketika sang Ayah melanjutkan argumentasinya, "Kedua, dengan menempati sebuah gubuk kecil, kalian akan menjadi cepat dewasa. Kalian ingin segera memisahkan diri dari orang tua supaya dapat menghuni rumah yang lebih selesa. Ketiga, kami dulu cuma berdua, Ayah dan Ibu. Kelak akan menjadi berdua lagi setelah anak-anak semuanya berumah tangga. Apalagi Ayah dan Ibu menempati rumah yang besar, bukankah kelengangan suasana akan lebih terasa dan menyiksa?" Si anak tercenung.

Alangkah bijaknya sikap sang ayah yang tampak lugu dan polos itu. Ia seorang hartawan yang kekayaannya melimpah. Akan tetapi, keringatnya setiap hari selalu bercucuran. Ia ikut mencangkul dan menuai hasil tanaman. Ia betul-betul menikmati kekayaannya dengan cara yang paling mendasar. Ia tidak melayang-layang dalam buaian harta benda sehingga sebenarnya bukan merasakan kekayaan, melainkan kepayahan semata-mata. Sebab banyak hartawan lain yang hanya bisa menghitung-hitung kekayaannya dalam bentuk angka-angka. Mereka hanya menikmati lembaran-lembaran kertas yang disangkanya kekayaan yang tiada tara. Padahal hakikatnya ia tidak menikmati apa-apa kecuali angan-angan kosongnya sendiri.


Kemudia anak itu lebih terkesima tatkala ayahnya meneruskan, "Anakku, jika aku membangun sebuah istana anggun, biayanya terlalu besar. Dan biaya sebesar itu kalau kubangunkan gubuk-gubuk kecil yang memadai untuk tempat tinggal, berapa banyak tunawisma/gelandangan bisa terangkat martabatnya menjadi warga terhormat? Ingatlah anakku, dunia ini disediakan Tuhan untuk segenap mahkluknya. Dan dunia ini cukup untuk memenuhi kebutuhan semua penghuninya. Akan tetapi, dunia ini akan menjadi sempit dan terlalu sedikit, bahkan tidak cukup, untuk memuaskan hanya keserakahan seorang manusia saja."
>>Selengkapnya

30 Maret 2012

Iman kepada Kitab-Kitab Allah Subhanahu wa ta'ala

Sebagai seorang muslim wajib beriman kepada kitab (Al Qur'an) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Sallallahu ‘alaihi wasallam dan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya. Umat Islam diwajibkan meyakininya, karena mempercayai kitab-kitab selain Al Qur'an sesuai dengan salah satu Rukun Iman. Adapun kitab-kitab tersebut adalah sebagai berikut.

Taurat
Umat Islam wajib mengimani bahwa kitab Taurat itu ada, berisi petunjuk dan hukum-hukum Allah Subhanahu wa ta'ala kepada orang-orang Yahudi, seperti yang dituliskan pada Al Qur'an dalam surah Al-Ma'idah ayat 44;
surah Al-Ma'idah ayat 44
"Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir." (Terjemahan surah Al-Ma'idah ayat 44)
Kitab ini mengandungi wahyu Allah Subhanahu wa ta'ala yang diturunkan kepada Nabi Musa Alaihi salaam, ditujukan khusus kepada umat beliau yaitu Bani Israil (Yahudi), sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta'ala dalam Al Qur'an surah Al-'Isra' ayat 2;

surah Al-'Isra' ayat 2
Dan Kami berikan kepada Musa kitab (Taurat) dan Kami jadikan kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman): "Janganlah kamu mengambil penolong selain Aku, (Terjemahan surah Al-Isra' ayat 2)
Zabur
Kitab Zabur ini diturunkan kepada Nabi Daud Alaihi salaam, dijelaskan dalam Al qur'an Surah An-Nisa' ayat 163;
surah An-Nisa' ayat 163
"Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma'il, Ishak, Ya'qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud." (Terjemahan surah An-Nisa' ayat 163)

Dan juga disebutkan  dalam surah AL-'Isra' ayat 55;
surah AL-'Isra' ayat 55
"Dan Tuhan-mu lebih mengetahui siapa yang (ada) di langit dan di bumi. Dan sesungguhnya telah Kami lebihkan sebagian nabi-nabi itu atas sebagian (yang lain), dan Kami berikan Zabur kepada Daud." (Terjemahan surah Al-'Isra' ayat 55)
Injil
Diturunkan kepada Nabi Isa Alaihi salaam, dalam Al-quran di sebutkan bahwa kitab Injil itu merupakan kitab pembenar pada kitab sebelumnya yaitu Taurat. Hal ini dijelaskan pada surah Al-Ma'idah ayat 46;
surah Al-Ma'idah ayat 46
Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi nabi Bani Israil) dengan Isa putera Maryam, membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk dan dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa. (Terjemahan surah Al-Ma'idah surat 46)
Al-Qur'an
Kitab terakhir yang di turunkan kepada nabi terakhir pula, yakni Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam sesuai yang disebutkan dalam Al-qur'an surah Yusuf ayat 1 - 2;
surah Yusuf ayat 1
Alif, laam, raa. Ini adalah ayat-ayat Kitab (Al Quran) yang nyata (dari Allah). (Terjemahan surah Yusuf ayat 1)
surah Yusuf ayat2
Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya. (Terjemahan surah Yusuf ayat 2)

kemudian firman-Nya yang lain;
surah Yunus ayat 37
Tidaklah mungkin Al Quran ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (Al Quran itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam. (Terjemahan surah Yunus ayat 37)
Dengan ayat tersebut, jelaslah bahwa Alquran telah memberitakan dan membenarkan kitab-kitab yang dibawa oleh para nabi-nabi terdahulu.

Dikarenakan kitab-kitab terdahulu maupun Al Qur'an diturunkan oleh Tuhan yang sama, pemilik yang sama, maka pastilah memiliki nilai kebenaran yang sama pula. Bedanya, kitab-kitab terdahulu adalah edisi lama, yang sesuai dengan hidup dan kehidupan saat itu. Sementara Al Qur'an adalah edisi terbaru dan terakhir yang sudah disempurnakan sesuai dengan hidup dan kehidupan nan abadi (dahulu, saat ini, dan masa mendatang).

Apabila kitab yang terdahulu diperuntukan pada golongan tertentu, tidak demikian dengan Al Qur'an, ia diturunkan untuk seluruh alam semesta ini, termasuk golongan jin sekalipun. sebagaimana firman-Nya;
surah Al-Qalam ayat 5

Dan Al Quran itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat. (Terjemahan surah Al-Qalam ayat 52)
Demikian sedikit penjelasan tentang Kitab Allāh (كتاب الله, Kitabullah) yang seluruhnya adalah kalamullah yang disampaikan oleh malaikat Jibril kepada setiap Rasul. Tunduk dan berserah diri dengan apa yang ada pada kitab terakhir yang diturunkan yaitu Al-Qur’an dengan tanpa menafikan kebenaran yang ada pada kitab-kitab sebelumnya, karena sesuai dengan salah satu Rukun Iman.


>>Selengkapnya

29 Maret 2012

Kisah seorang Anak dan Pohon Apel

Izinkan saya berbagi cerita dengan pembaca yang budiman sekalian..


Suatu masa dahulu kala, terdapat sebatang pohon apel yang sangat besar. Seorang anak lelaki kecil sangat gemar bermain-main di sekitar pohon apel ini setiap hari. Dia memanjat pohon tersebut, memetik serta memakan apel sepuas-puas hatinya, dan kadangkala dia beristirahat hingga terlelap di perdu pohon apel tersebut. Anak lelaki tersebut begitu menyayangi tempat permainannya. Pohon apel itu juga menyukai anak tersebut.

Waktu berlalu...

Anak lelaki itu sudah besar dan menjadi seorang remaja. Dia tidak lagi menghabiskan waktunya setiap hari bermain di sekitar pohon apel tersebut. Namun begitu, suatu hari dia datang kepada pohon apel tersebut dengan wajah yang sedih. "Marilah bermain-mainlah di sekitarku," ajak pohon apel itu. "Aku bukan lagi kanak-kanak, aku tidak lagi gemar bermain dengan engkau," jawab remaja itu. "Aku sedang menginginkan mainan. Aku perlukan uang untuk membelinya," tambah remaja itu dengan nada yang sedih. Lalu pohon apel itu berkata, "Kalau begitu, petiklah apel-apel yang ada padaku. Juallah untuk mendapatkan uang. Dengan itu, kau dapat membeli permainan yang kauinginkan."

Remaja itu dengan gembiranya memetik semua apel dipohon itu dan pergi dari situ. Dia tidak kembali lagi selepas itu. Pohon apel itu merasa sedih.

Waktu berlalu...

Suatu hari, remaja itu kembali. Dia semakin dewasa. Pohon apel itu merasa gembira. "Marilah bermain-mainlah di sekitarku," ajak pohon apel itu. "Aku tiada waktu untuk bermain. Aku terpaksa bekerja untuk mendapatkan uang. Aku ingin membuat rumah sebagai tempat perlindungan untuk keluargaku. Dapatkah kau menolongku?" Tanya anak itu.

"Maafkan aku. Aku tidak mempunyai rumah. Tetapi kau boleh memotong dahan-dahanku yang besar ini dan kau buatlah rumah daripadanya." Pohon apel itu mencondongkan batangnya. Lalu, remaja yang semakin dewasa itu memotong kesemua dahan pohon apel itu dan pergi dengan gembiranya. Pohon apel itu pun turut gembira tetapi kemudian dia merasa sedih karena remaja itu tidak kembali lagi setelah itu.

Kembali, waktu berlalu...

Suatu hari yang panas, seorang lelaki datang menemui pohon apel itu. Dia adalah anak lelaki yang pernah bermain-main dengan pohon apel itu. Dia telah matang dan dewasa. "Marilah bermain-mainlah di sekitarku," ajak pohon apel itu. "Maafkan aku, tetapi aku bukan lagi anak lelaki yang suka bermain-main di sekitarmu. Aku sudah dewasa. Aku mempunyai cita-cita untuk belayar. Malangnya, aku tidak mempunyai kapal. Dapatkah kau menolongku?" tanya lelaki itu.

"Aku tidak mempunyai kapal untuk diberikan kepada kau. Tetapi kau boleh memotong batang pohon ini untuk dijadikan kapal. Kau akan dapat belayar dengan gembira," kata pohon apel itu. Lelaki itu merasa amat gembira dan menebang batang pohon apel itu. Kemudian dia segera pergi dari situ dengan gembira dan tidak kembali lagi setelah itu.

Setelah sekian waktu berlalu...

Pada suatu hari, seorang lelaki yang telah lanjut usia, datang menuju pohon apel itu. Dia adalah anak lelaki yang pernah bermain di sekitar pohon apel itu.

"Maafkan aku. Aku tidak ada apa-apa lagi untuk diberikan kepada kau. Aku sudah memberikan buah ku untuk kau jual, dahanku untuk kau buat rumah, batang ku untuk kau buat kapal. Aku hanya ada tunggul dengan akar yang hampir mati..." kata pohon apel itu dengan nada pilu.

"Aku tidak mau apelmu kerana aku sudah tiada bergigi untuk memakannya, aku tidak mau dahanmu kerana aku sudah tua untuk memotongnya, aku tidak mau batang pohonmu kerana aku sudah tidak belayar lagi, aku merasa lelah dan ingin istirahat," jawab lelaki tua itu."

Jika begitu, istirahatlah di akarku," kata pohon apel itu. Lalu lelaki tua itu duduk beristirahat di perdu pohon apel itu dan beristirahat. Mereka berdua menangis kegembiraan.

Renungan! Tahukah anda apa (siapa) yang dimaksud dengan pohon apel dari cerita diatas?

Catatan: per•du n 1 tumbuhan berkayu yang bercabang-cabang, tumbuh rendah dekat dng permukaan tanah, dan tidak mempunyai batang yang tegak (seperti kembang merak, puring): tepi jalan itu ditanami dng --; 2 tumbuhan yang tidak berbatang besar, kadang-kadang berdaun lebar, ada juga jenis rumput-rumputan 3 Bot rumpun (bambu dsb);
-- hias tanaman perdu yang biasa dijadikan tumbuhan hias (seperti kacapiring) (Sumber: Kamus Besar Bahasa Indonesia)
>>Selengkapnya

Rukun Iman Landasan Aqidah Islam

Iman
Isi dari enam rukun iman tersebut adalah beriman kepada Allah Subhanahu wa ta'ala,  para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya dan hari kemudian serta beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk. Ini merupakan sendi utama keimanan (kepercayaan) umat Islam kepada Tuhannya, serta kepada segala ketentuan-ketentuan-Nya.

Penjelasan tentang rukun Iman ini tertulis pada Al Qur'an. Hal tentang itu disebutkan Allah Subhanahu wa ta'ala dalam firman-Nya pada surah Al-Baqarah ayat 177:
surah Al-Baqarah ayat 177
"Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa." (Terjemahan surah Al-BAqarah ayat 177)
dalam ayat lain Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:
surah Al-Baqarah ayat 285
"Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat". (Mereka berdoa): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali". (Terjemahan surah Al-Baqarah ayat 285)
Adapun, iman kepada takdir disebutkan dalam firman-Nya pada surah Al-Qamar ayat 49:
surah Al-Qamar ayat 49
Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. (Terjemahan surah Al-Qamar ayat 49)

Ayat 49 surah Al-Qamar ini menerangkan bahwa seluruh makhluk yang ada ini adalah ciptaan Tuhan, diciptakan-Nya menurut kehendak-Nya dan ketentuan-Nya disesuaikan dengan hukum-hukum yang ditetapkan-Nya untuk alam semesta ini. Ketentuan Allah untuk seluruh yang ada sesuai dengan ilmu dan hikmah-Nya. Taqdir ini kembali kepada kodrat (kekuasaan) Allah, sesungguhnya Dia atas segala sesuatu maha kuasa, dan berbuat apa yang dikehendaki-Nya. 
(Catatan tambahan: Tentang takdir ini Insha Allah akan saya coba bahas pada kesempatan yang lain)

Hadist tentang rukun iman ini diceritakan oleh Sahabat Umar bin Khaththab Radiallahu anhu dengan cukup panjang, yang isinya sebagai berikut :
Pada suatu hari ketika kami (para sahabat) sedang berada di hadapan Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba muncul seorang lelaki yang berpakaian sangat putih dan berambut hitam pekat. Pada diri lelaki itu tidak terdapat tanda bekas perjalanan dan tiada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia langsung duduk di hadapan Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam. Seraya menyandarkan kedua lututnya kepada kedua lutut Nabi dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua pahanya sendiri. Ia bertanya, “Hai Muhammad, ceritakanlah kepadaku tentang Islam.”Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Islam ialah hendaknya engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah; mendirikan shalat; menunaikan zakat; berpuasa pada bulan Ramadhan; berhaji ke Baitullah apabila engkau mampu mengadakan perjalanan kepadanya.”Ia berkata, “Engkau benar.”
Sahabat Umar RA mengatakan, “Kami heran terhadapnya, ia bertanya tetapi juga membenarkan.”Selanjutnya lelaki itu bertanya kembali, “Ceritakanlah kepadaku tentang iman.”Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Hendaknya engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari kemudian dan hendaknya engkau beriman kepada takdir yang baik dan takdir yang buruk.”Lelaki itu mengatakan, “Engkau benar.”
Ia bertanya kembali, “Ceritakanlah kepadaku tentang ihsan.”Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Hendaknya engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Apabila engkau tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihat-Mu.”Lelaki itu bertanya kembali, “Ceritakanlah kepadaku tentang hari Kiamat,”Rasul Sallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Orang yang ditanya tidaklah lebih mengetahui daripada orang yang bertanya.”Lelaki itu mengatakan, “Ceritakanlah kepadaku tentang tanda-tandanya.”Rasul Sallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Manakala budak sahaya perempuan melahirkan tuannya, dan bila engkau melihat orang-orang yang tidak berterompah telanjang miskin lagi penggembala kambing mulai berlomba-lomba saling tinggi-meninggi dalam bangunan.”
Sahabat Umar melanjutkan ceritanya, “Kemudian lelaki itu pergi dan aku tinggal sendirian selama beberapa waktu.”
Setelah itu Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku, “Hai Umar, tahukah engkau siapa orang bertanya kemarin?”Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”
Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Sesungguhnya dia adalah Malaikat Jibril yang sengaja datang kepada kalian untuk mengajarkan kepada kalian agama kalian.”
(HR Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi dan an-Nasa’i)
Sebagai seseorang yang mengaku beragama Islam wajib untuk mengimani/meyakini rukun iman ini, jika tidak maka ke-Islam-an nya akan diragukan, seperti firman Allah Subhanahu wa ta'ala dalam surah An-Nisa ayat 136:
surah An-Nisa ayat 136
"Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya." (Terjemahan surah An-Nisa ayat 136)
Baca juga >> Iman kepada Kitab-Kitab Allah Subhanahu wa ta'ala
>>Selengkapnya

28 Maret 2012

Kewajiban untuk memakai Jilbab bagi Muslimah

Jilbab/Hijab
Telah menjadi aturan yang telah tertulis dalam Al Qur'an untuk semua muslimah yang telah baligh, tentang kewajiban mengenakan jilbab. Ayat-ayat tersebut ada pada Al Qur'an surah Al-'Ahzab ayat 59 dan An-Nur ayat 30;
surah Al-'Ahzab ayat 59
"Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Terjemahan surah Al Ahzab ayat 59)

surah An-Nur ayat 31
"Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung." (Terjemahan surah An-Nur ayat 31)
Mungkin pembaca heran, karena tidak ada kata "wajib" pada 2 ayat yang disajikan diatas. Oleh karena itu sudilah kiranya pembaca mengkaji surah An-Nur ayat 1 dibawah ini;
surah An-Nur ayat 1
(Ini adalah) satu surat yang Kami turunkan dan Kami wajibkan (menjalankan hukum-hukum yang ada di dalam)nya, dan Kami turunkan di dalamnya ayat ayat yang jelas, agar kamu selalu mengingatinya. (Terjemahan surah an-Nur ayat 1)
pada ayat tersebut dikatakan bahwa surah yang diwahyukan (surah An-Nur) tersebut hukumnya wajib dengan isi-isi yang sangat jelas agar mudah diingat.

Menggunakan Jilbab ini pun ditegaskan juga pada Hadist ; 
Dari Khalid bin Duraik, dari Aisyah Radiallahu anha Asma' binti Abu Bakar Radiallahu anhu, pernah berkunjung kepada Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam memakai pakaian tipis. Maka Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam berpaling dari padanya seraya bersabda: "Wahai Asma', sesungguhnya wanita apabila telah baligh, tidak benar terlihat dari padanya kecuali ini... dan ini...". Beliau memberi isyarat kepada wajah dan kedua tangannya. (H.R. Abu Dawud No. 3945; Buku IV; halaman 521)

"Aisyah Ummul Mukminun Radiallahu anha, menceritakan pada suatu hari saya pernah keluar rumah untuk menemui anak saudaraku Abdullah bin Taufalid dengan memakai perhiasan, lalu Rosululloh Sallallahu ‘alaihi wasallam marah, maka aku jawab, bukankah dia hanya anak saudaraku wahai Rosululloh? Dan beliau pun menjawab, apabila seorang wanita telhbaliqh (datang haid) tidak halal terlihat dari tubuhnya kecuali muka dan ini. Katabeliau, seraya menggenggam pergelangan tangannya dengan meninggalkan jarak satu genggaman pula dengan telapak tangan" (H.R. Ath Thabary)
Wahai muslimah, bukankah kalian telah bersyahadat pada Allah Subhanahu wa ta'ala. Oleh karena itu maka sudah menjadi konsekuensinya untuk menuruti semua perintah Allah Subhanahu wa ta'ala. Bukankah Al-Qur'an itu semuanya adalah firman Allah Subhanahu wa ta'ala yang diwahyukan pada Nabi Muhammad Sallallahu ‘alaihi wasallam untuk diteruskan kepada kita agar menjadi panutan.  Dalam setiap Sholat, muslimah selalu berkata; 
لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ اْلمُسْلِمِيْنَ
Terjemahan: "Tiada sekutu bagiNya karena dengan itu aku diperintah. Dan ketahuilah sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim (muslimah)"
Masihkah muslimah masih mau melalaikan ayat-ayat tersebut, sudah lupakah pada firman Allah Subhanahu wa ta'ala pada Al Qur'an surah Al-'A'raf ayat 179;
surah Al-'A'raf ayat 179
"Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (Terjemahan surah Al-A'raf ayat 179)
Tentunya kita semua tidak mau untuk menjadi pengisi neraka Jahanam hanya karena lalai pada ayat-ayat Allah Subhanahu wa ta'ala. Semoga kita semua menjadi umat Nabi Muhammad Sallallahu ‘alaihi wasallam yang taqwa pada Allah Subhanahu wa ta'ala. Aamiin.
>>Selengkapnya